Foto: Bupati I Gusti Putu Parwata (Gus Par) bersama Wakil Bupati Pandu Prapanca Lagosa saat meimpin rapat resmi di Kantor Setda Karangasem, Selasa (5/8).
Karangasem
Pemerintah Kabupaten Karangasem mulai mengarahkan pembaruan visi pembangunan jangka panjang melalui revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Dalam rapat resmi yang dipimpin langsung oleh Bupati I Gusti Putu Parwata (Gus Par) bersama Wakil Bupati Pandu Prapanca Lagosa di Kantor Setda Karangasem, Selasa (5/8), revisi RTRW ditegaskan akan berpijak pada pengembangan sektor pariwisata berbasis potensi lokal dengan prinsip berkelanjutan.
Wilayah-wilayah unggulan seperti Seraya, Amed, Candidasa, Sidemen, Tulamben, hingga kawasan spiritual Bukit Lempuyang menjadi fokus utama dalam penataan ulang ruang tersebut. Selain sebagai destinasi wisata, kawasan ini juga dinilai memiliki kekuatan budaya dan lanskap alam yang khas.
“Kita harus menyusun RTRW ini sejalan dengan visi pembangunan Karangasem yang tertuang dalam RPJMD 2025–2029. Artinya, tata ruang harus mendukung arah pembangunan sektor unggulan, terutama pariwisata, dengan tetap menjaga pertanian, lingkungan, dan kearifan lokal,” tegas Bupati Gus Par.
Lebih jauh, Gus Par juga menyebut bahwa revisi RTRW akan memuat beberapa inisiatif strategis, seperti rencana pembangunan dermaga pariwisata di Seraya Timur, terminal khusus untuk sektor galian C di Kubu, serta pelabuhan wisata di Amed. Seluruh infrastruktur tersebut ditujukan untuk memperkuat aksesibilitas dan meningkatkan daya saing destinasi wisata Karangasem.
“Kita tidak bisa membiarkan ruang kita ditata tanpa arah yang jelas. RTRW ini akan menjadi peta jalan pembangunan Karangasem ke depan, agar semua pembangunan berjalan dengan terukur, tidak ugal-ugalan, dan berpihak pada masyarakat,” ujar Gus Par lagi.
Wakil Bupati Pandu menambahkan bahwa pembangunan yang dirancang dalam RTRW harus didukung dengan basis data yang akurat. Menurutnya, sektor pariwisata harus didorong untuk memberikan dampak langsung terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kesejahteraan masyarakat.
“Kita perlu memastikan keberadaan akomodasi wisata yang layak di setiap destinasi unggulan, serta penataan ruang yang tidak tumpang tindih. Dengan tata ruang yang baik, PAD akan naik, lapangan kerja terbuka, dan masyarakat diuntungkan,” tutur Wabup Pandu.
Keduanya juga sepakat bahwa sektor galian C hanya bersifat sementara dan memiliki risiko tinggi terhadap kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, pembangunan berbasis pariwisata yang ramah lingkungan harus menjadi motor utama penggerak ekonomi Karangasem.
“Kita tidak ingin Karangasem hanya menjadi tempat eksploitasi sumber daya. Kita ingin tempat ini menjadi tujuan wisata kelas dunia, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai daerah agraris dan spiritual,” tutup Bupati Gus Par.
Dengan revisi RTRW yang kini digarap serius, Pemkab Karangasem berharap dapat menciptakan pembangunan yang adil, berkelanjutan, dan berorientasi pada kekuatan lokal yang dimiliki tiap wilayah. Tata ruang bukan hanya soal zonasi, tapi juga tentang masa depan generasi Karangasem.