Foto: Bupati I Gusti Putu Parwata (Gus Par) dan Wakil Bupati Pandu Prapanca Lagosa (Guru Pandu), saat menghadiri panen bersama, Sabtu (15/6/2025).
Karangasem
Pemerintah Kabupaten Karangasem terus menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan kedaulatan dan kemandirian pangan, bahkan di tengah tantangan geografis berupa lahan kering yang selama ini dianggap tidak produktif. Di bawah kepemimpinan Bupati I Gusti Putu Parwata (Gus Par) dan Wakil Bupati Pandu Prapanca Lagosa (Guru Pandu), Karangasem membuktikan bahwa dengan ilmu, semangat, dan teknologi, keterbatasan bisa diubah menjadi keunggulan.
Hal ini terlihat dalam kegiatan panen padi gogo yang berlangsung di Subak Abian Giri Lestari, Desa Bugbug, Kecamatan Karangasem. Dengan luas panen mencapai 1 hektare, produktivitas padi gogo kali ini tercatat mencapai 3,89 ton per hektare. Yang lebih membanggakan, petani Karangasem telah mengadopsi teknologi modern seperti penggunaan drone untuk pemupukan, sebuah lompatan inovatif dalam praktik pertanian daerah berbasis kearifan lokal.
“Lahan kering bukan alasan untuk menyerah. Justru di sini kita bisa tunjukkan bahwa dengan pendekatan ilmiah, semangat gotong royong, dan pemanfaatan teknologi, pertanian tetap bisa jadi tulang punggung pembangunan,” ujar Bupati Gus Par saat menghadiri panen bersama, Sabtu (15/6/2025).
Turut hadir dalam kegiatan ini jajaran pejabat daerah seperti Sekda Karangasem, Dinas Pertanian Provinsi Bali, Forkopimda, Kepala Balai Riset dan Pemuliaan Padi (BRMP) Bali, para penyuluh pertanian (PPL), petugas pengendali organisme pengganggu tanaman (POPT), Perbekel Bugbug, hingga pengurus subak.
Bupati Gus Par menambahkan bahwa keberhasilan panen padi gogo ini bukan semata hasil kerja teknis, melainkan buah dari kolaborasi lintas sektor yang kuat, mulai dari pemerintah daerah, lembaga riset, hingga para petani di lapangan. “Kita tidak membangun pertanian dengan mimpi, tapi dengan aksi nyata,” tegasnya.
Wakil Bupati Karangasem, Guru Pandu, dalam kesempatan tersebut juga memberikan pesan inspiratif kepada generasi muda. Ia menyebut bahwa sektor pertanian bukan lagi sektor terbelakang, tetapi justru masa depan Karangasem yang menjanjikan.
“Pertanian adalah panggilan masa depan. Kita butuh lebih banyak anak muda turun ke sawah, membawa energi, kreativitas, dan inovasi. Kalau kita ingin swasembada, desa harus jadi garda depan ketahanan pangan,” ujarnya.
Guru Pandu juga mengapresiasi penggunaan teknologi seperti drone dan pemupukan berbasis presisi yang menunjukkan bahwa petani Karangasem telah siap menyambut era pertanian modern yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar Pemkab Karangasem dalam mewujudkan ketahanan pangan daerah, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap suplai pangan dari luar. Dari Desa Bugbug, Karangasem mengirimkan pesan kuat bahwa pembangunan pertanian tidak harus dimulai dari lahan subur, tapi dari tekad yang tidak kenal menyerah.
Dengan model kolaboratif ini, pemerintah optimistis akan lahir lebih banyak titik-titik produktif baru di wilayah Karangasem, membuka jalan bagi daerah ini menuju swasembada pangan yang inklusif, tangguh, dan berbasis teknologi.